13 Jul 2013

Lagi-Lagi Error

Huuuhhh, jengkel tingkat dewa. Pulangku ketunda gara-gara email. lagi-lagi karena email.
Tiap dikirim selalu error sending, crap!. Udah satu jam lebih, gila, ngirim email gagal mulu.
Aku ga mau tau ya emailnya bakal terkirim atau gak, yang penting aku mau cabut!
aku set aja deh pc nya run -> shutdown -s -t 3600
jadi kalau dalam satu jam itu tetep ga kekirim ya terserah!

18 Mei 2013

Peperangan di Lapangan

Sore ini aku duduk di depan rumah Bulik, di sebuah bangku yang terbuat dari bambu, kami menyebutnya dengan 'angkrik'. Aku habis bersepeda di jalan depan rumah kekanan dan kekiri, mencari teman-teman dan ikut bermain. Tapi aneh, tidak ada teman satu pun yang aku temui. mereka tidak ada di mana-mana.
"Kenapa kamu duduk disini? Ga ke balai desa sama teman-teman kamu?", tanya ibu yang tiba-tiba saja sudah berdiri di belakan pagar.
"Emang ada apa di balai desa?", tanyaku penasaran. Pantas saja aku mencari keberadaan mereka tidak ada, ternyata sedang berkumpul di balai desa.
"Latihan buat pentas perpisahan kelas enam, kamu ga ikut? teman-teman kamu yang lain pada ikut semua tuh", jawab ibu.
"oh, jadi ada pentas ya. Males ah". jawabku. Aku memang ga tertarik yang namanya show up. Apa pun itu. Mungkin karena aku dasarnya pemalu, atau minder? whatever.
"Daripada bengong sendiri disini mending kan kamu ikut, ya kalo ga mau ikut nonton aja sana, anak kok ngintil ibu nya terus".
"iyaaaa deh, aku kesana". kataku berlagak sebal karena diusir ibu. Sebenarnya aku berangkat ke balai desa bukan karena ibu menyuruh tapi karena penasaran saja dengan latihan pentas teman-teman untuk perpisahan kelas enam nanti. Memang tradisinya kalau kelas enam yang perpisahan, kami adik kelas, kelas lima atau kadang ada juga yang dibawah kami tampil di pentas seni.
Aku bersepeda menyusuri jalan menuju balai desa yang tempatnya ada di depan sekolahku.
Baru sampai di depan sekolah teman-teman cewek ku berlari menghampiriku dengan wajahnya yang sumringah. Aku mengernyitkan dahi. Ada apa gerangan?.
Saat mereha tiba di depanku, tanpa dikomando semua pada bicara serempak seperti burung yang bersahut-sahutan. yang aku tangkap intinya hanya satu, "Ah, Pit, kamu darimana aja, kami udah nunggu kamu dari tadi, kata anak-anak cowok kamu takut makanya kamu ga datang, tapi kita percaya kok kamu ga mungkin takut, kamu pasti datang iya kan?".
Apa pula ini kata si Wuri kalau aku takut? ga datang? apa sih yang dia maksud sebenarnnya? Aku hanya menuntun sepeda miniku mengikuti gerombolan para cewek menuju balai desa. Tunggu dulu, kenapa kami menuju.......belakang kantor desa? dan disana sudah ada gerombolan.....anak cowok? Apa sebenarnya yang terjadi?.
kemudian aku ingat peristiwa tadi siang,'Kalau kamu berani, ayo nanti sore kita duel'. Ah ya aku tadi nantangin si Didit untuk duel karena tadi dia udah nimpuk kepalaku. Dan kenapa aku bisa lupa sendiri dengan tantangan yang aku ajukan itu? Dasar pelupa.
Sebenarnya aku sudah tidak memusingkan duel itu, kalau aku pikir lagi aku bahkan sudah tidak ingat lagi kejadian tadi siang di sekolah yang ngebuat aku sampai nekat nantangin anak cowok berkelahi. bahkan di arena. Astaga, demi tuhan, kami akan berkelahi di dalam lingkaran teman-teman satu kelas yang dengan heboh bersorak-sorai? Astagaaaaa...........
Dan setelah tiba di belakang kantor desa itu aku terbengong-bengong betapa ramai sekali. Anak cewek berteriak-teriak mendukungku dan para cowok mendukung si Didit. Terus perkelahian itu pun dimulai. Entah siapa yang memulai terlebih dahulu, seranganku terhadap si Didit tidak pernah menyentuh nya sama sekali, sedangkan serangannya padaku, tendangannya, selalu mengenaiku. Yah aku tahu kalau aku cuma cewek biasa yang hanya besar mulut tapi selalu kalah dengan laki-laki dalam hal adu jotos, atau adu kaki?
Perkelahian itu pun usai dengan sorakan kekalahan yang diserukan para teman cewekku. Aku tidak peduli sebenarnya tentang siapa yang menang atau siapa yang kalah, toh sebenarnya aku sudah lupa sama sekali dengan duel ini. Tapi, harga diri? harga diriku sebagai pembela hak asasi perempuan terasa sakit, perih teriris.
Ah sial, kenapa tendangannya tepat di kaos ku? dan kenapa pula aku pakai kaos putih? Ah, ini tidak boleh. Ibu pasti marah karena tahu kaos ku kotor seperti ini. Pasti ibu ngomel-ngomel. Dan apalagi sampai dia tahu kalau kaoskku kotor karena aku 'duel' ama si Didit? ahhhhh, aku haarus menghilangkan bukti kebrutalanku ini.
aku berjalan menuju kamar mandi sekolah yang tidak jauh dari TKP. Aku menimba air di sumur dan mengambil air di ember, membersihkan kotoran jejak tendangan si Didit di Kaos ku. Ah ini harus di sembunyikan dari mata jeli ibu, sebelum aku dapat hadiah omelannya.
"Kamu jangan nangis dong, apalagi nangis sendiri disini", kata suara dibelakangku, aku mengenali siara itu adalah dari Rio yang menghampiriku kesini.
Aku mengangkat muka dan berkata,"Siapa yang nangis coba? emang mukaku sekarang ini keliatan mau nangis?".
"terus kalo ga nangis kenapa kamu disini? ga ikut anak-anak ke balai desa sana? latihan udah di mulai tuh".
"Nih, liat baju ku kotor", jawabku sembari nunujukin kaos depan ku yang putih kearahnya."Kamu sendiri kan tahu ibu ku bawel banget, kalau sampai tahu kaos ku kotor pasti ngomel-ngomel. Kamu duluan aja deh sana ntar aku nyususl abis bersihin ini".
"Beneran ga apa-apa? ga nangis kan?", tanya dia masih belum percaya.
Aku tidak menjawab, hanya menatapnya dengan tatapan plis deh emang aku ini cewek cengeng yang hanya karena kayak gitu aja bakalan nangis darah?. Tapi dasar tolol dia tak menangkap sinyal dariku tadi. Akhirnya aku menyerah dan balik ke balai desa sebelum semua anak di sana mengira aku memang nangis beneran di kamar mandi. dan firasatku benar, tiba di balai desa semua teman cewek bertanya "Kamu kok ga balik-balik sih Pit? kata mereka kamu nangis di kamar mandi tadi".
"Emang muka ku ini keliatan abis nangis?", kataku jengkel.

'Kalo berani Ayo Kita Duel'

Hari ini wali kelas sedang ijin keluar sekolah karena ada acara, tak tau apa acaranya. Aku, atau kami, tidak peduli karena berarti sedang tidak ada pelajaran. Dan itu bagus buat kami karena bisa bermain di dalam kelas.
Kalau pelajaran sedang kosong gini selalu gaduh, anak-anak cowok mulai dengan keisengannya jahhilin anak-anak cewek. Dan aku yang merasa berjiwa ksatria bagi kalangan cewek selalu membantu ngebales perlakuan mereka para cowok. Entahlah mengapa mereka tiap diisengin cowok selalu mengadu kepadaku, mungkin karena aku yang sok berani ngebales mereka, ato karena aku emang tomboy. Padahal aslinya aku tuh lembek.
Dan tak tahu kenapa tiba-tiba dari kami bermain jual-jualan, yang semula cuman para cewek yang main tiba-tiba anak cowoko ikut main dan bikin gaduh, akhirnya terjadilah perang antara kubu cewek dan cowok. Aku sendiri tak tahu apa penyebab peperangan ini, tapi yang aku tahu, kami, para cewek ga mau ditindas oleh kenakalan mereka. bagaimana pun mereka tak berhak jahil sama kita.
Kami mulai kejar-kejaran, tak jelas lagi siapa mengejar siapa. Aku segera mengambil buku Ipa karena buku ini yang paling tebal, sehingga aku berharap kalau aku timpukin ke mereka, mereka bisa merasakan sakitnya. Tapi dasar bandel, tidak menampakkan rasa sakit, tapi malah ngece, huh!. Aku jadi gemas sendiri. Akhirnya aku gulung buku itu seperti pelompong, dan ku masukin batu biar lebih keras, biar tahu rasa!
tapi mereka tak jera juga. Sudah berjam-jam kami bekejar-kejaran, aku capek juga.Aku tipe anak pemalas yang gerak dikit aja udah kecapekan, hehehe. Akhirnya aku istiraha di bangku sambil merebahkan badan di kursi bangku kayu yang panjang. Tiba-tiba, si Didit menimpuk kepalaku, tepat di kepalaku kala aku sedang tak awas. Aku muntab, aku paling benci ada orang yang memasuki area kepalaku, ga peduli siapa. Emosi ku mencapai ubun-ubun.
Aku nyemprot Didit sambil nimpuk punggungnya pakai buku IPA tadi, "Hey, apa-apa an sih, nimpuk kepala orang huh?"
"Apa an sih siapa yang nimpuk kepala kamu? dasar cewek sok jago, pake nimpuk orang segala lagi", umpatnya.
Aku ga mau kalah karena aku yakin dia yang nimpuk kepalaku, area terlarang, "Emang kamu pikir aku ga tau apa? Jangan ngeles deh".
Percekcokan terus terjadi dengan aku menahan gejolak emosi yang siap menyembur seperti naga api yang menyemburkan napas apinya, hingga kerongkonganku berasa sakit sekali menahan amarah ini. Akhirnya karena tak tahan lagi tercetuslah kalimat pamungkas itu dari mulut besarku. "Pokoknya aku ga terima ini, klo berani ayo entar sore kita duel", teriakku bersungut-sungut.
"terima aja Dit, masak ga berani", kata teman laki-laki yang lain ngomporin si Didit.
"Oke, nanti sore di lapangan, aku tunggu", Katanya membalas tantanganku.
Semua anak di dalam kelas bersorak sorai seperti penonton sepak bola yang senang karena tim jagoannya menang di lapangan. Oke, nanti sore aku akan membalas semua ini. Kataku dalam hati dengan emosi yang masih meletup-letup bagai bola api.

23 Apr 2013

"Kesempatan Kedua" Itu Ada

Suatu kepercayaan bahwa kesempatan itu jarang datang kedua kali, tapi ternyata kesempatan itu bisa datang untuk kedua kalinya.
Aku tidak tahu pasti gimana prosesnya, tapi aku bersyukur aja, berarti aku masih dikasih kesempatan untuk mencobanya, dan yang pasti aku lega juga karena tidak di blacklist karena kesempatan pertama tidak aku datangin.
Dan kesempatan kedua itu tidak boleh disia-siakan lagi. :)

15 Apr 2013

Refreshing Dikejar Jadwal Terakhir Angkot

Week end adalah waktunya istirahat, refreshing, dan seru-seruan. Acara weekend kemarin adalah rekreasi bersama dua temen cewek ke WBL (Wahan Bahari lamongan). Rencana itu sudah kami rancang sebulan sebelumnya.
Berangkat jam sembilan dari jombang naik Bus Widji menuju Tuban. Tiga jam perjalanan sampailah di Terminal lama Tuban, langsung oper angkot ke arah Paciran tempat nongkrongnya WBL. Setelah satu jam perjalanan ternyata angkot yang kami tumpangi tidak sampai paciran tapi dioper ke angkot lain. Berbeda dari angkot yang pertama jalannya kenceng kaya kelinci ini angkot kedua jalannya lelet kaya kura-kura. Nyari penumpang sih nyari penumpang, tapi kita lagi dikejar waktu, masa jam satu kurang masih diangkot?? Kita nanti di dalam berapa jam woyyy.....
Pukul satu siang lewat baru nyampai lokasi, phieww. Setelah sholat dan makan siang, kami baru masuk wahana pukul 2 siang. Jadi bayangin aja, ke tempat rekreasi nyampe jam 2 trus angkot terakhir kata sopir angkot yang menuju Tuban jam 4an sore. Kepalang udah jauh-jauh nyampe sana ga lanjut sampe akhir rugi banget kan ya..... akhirnya kita tetep masuk. Wahana yang aku coba bisa dihitung jari, cuma 3 wahana aja.
Dan yang paling menantang (yg aku coba aja) adalah speed flip. Sampe ada mbak-mbak yang pingsan tak berdaya abis naik wahana ini, yang musti diurut ama satpam seluruh badannya dan nafasnya tersengal-sengal. Ini gambar dari Speed Flip. Emang klo diliat dari luar biasa aja, tapi waktu udah naik, jangan tanya. I just can close my eyes. Dan saat aku ngecoba ngintip, waktu posisiku njungkir kebalik ngadep tanah, ewwww jadi ga berani buka mata lagi.



Kata temen ku itu masih belum ada apa-apanya dibanding ama Ranger. Hmm, FYI Ranger itu ibaratnya seperti Wahana Columbus, tapi kalo columbus cuma diayun-ayun dari ujung kiri ama ujung kanan, kalo Rangers ini diayun terus diputer 360 derajat, dan ada saat diujung atas dengan kepala terbalik, masin berhenti beberapa detik, bhewww liat aja aku udah kepikiran ama kesehatan jantungku, kekekekeke~.
Abis naik tiga wahana, sisa waktu sampai jam 4, kami habiskan berfoto-foto di jembatan pinggir laut sambil  ngeliat orang-orang yang naik banana boat. Refreshing dikejar jadwal angkot sungguh ga keren, karena harus cepet-cepet cabut dari lokasi yang berakibat kurang lama manikmati keindahan laut, kurang banyak nyobain wahana, ga bisa berbasah-basahan padahal udanh sedia baju ganti, dan terakhir ga bisa beli oleh-oleh *untung aja karena uang ku udah ludes* kekekekeke~. Tapi, meski terhitung singkat, rasanya udah puas deh hari kemarin, bagaimana tidak kalo perjalanan pulang disuguhin pemandangan sunset?

11 Apr 2013

Yang Menang 'Suit', Dia Yang Dapat

Sore ini ibu sedang mengikuti pengajian yang rutin diadakan di lingkungan desa, tapi aku sudah mandi kok, karena yang bertugas memandikan aku dan mas setiap sore adalah bapak. Aku sudah wangi, dan waktunya untuk main. Satu-satunya teman main ku cewek di rumah adalah Mbak Febri, setiap hari kami selalu main bersama. Aku terbilang baru mengenalnya, karena baru dua atau tiga tahun keluargaku baru pindah kamari.
Sore ini aku barmain tidak hanya dengan Mbak Febri di depan rumahnya yang rindang, ada mas, sepupuku yang bernama Adi, dan anak-anak kecil lainnya sepantaran kami.
Kemudian saat kami sedang asik bermain kejar-kejaran, datang anak cewek kearah kami. Aku mengenalinya sebagai teman mas sekolah. Siapa ya namanya? aku mengingat-ingat, memang aku tidak terlallu bagus mengingat orang. Oh ya namanya Mbak Epi, dia sedang berkunjung ke rumah neneknya yang rumahnya disekitar tempat tinggal kami, sedangkan rumah mbak epi beberapa blok dari rumah kami.
Mbak epi membawa sebuah kotah, entah kotak apa itu akujuga kurang tau, kemudian dia memamerkan pada kami kalau dia punya kotak yang harum, ajaib!. "Eh, aku punya kotak harum nih, keren kan??", ujarnya.
Sebagai anak cewek normal, aku dan Mbak Febri jadi tertarik ingin melihat seperti apa, dan yah tidak usah ditanya lagi aku juga pengen memilikinya.
Mbak Febri meminta kepada Mbak Epi, "Mbak aku mau dong".
Tak mau kalah aku juga minta, "aku juga mbak".
Karena kotak itu hanya ada satu, maka Mbak Epi dengan bijaksananya berkata, "ya udah kalian suit aja, ntar yang menang itu yang aku kasih".
Akhirnya tanpa dikomando akupun suit dengan Mbak Febri. Suit pertama seri, suit kedua aku yang menang, yay!. aku yang menag! berarti aku yang memiliki kotak wangi itu! horeee!!
mbak Epi mengulurkan kotak itu kearahku, tapi sebelum aku terima Mbak Febri merengek ke mbak epi kalau dia ingin sekali punya kotak itu. pokoknya dia ingin kotak itu. Dan ga tau kenapa, padahal yang menang suit adalah aku dan tadi mbak epi juga bilang yang menang suit dia yang dapat, tetapi kenapa? kenapa mbak epi akhirnya ngasih kotak itu ke mbak febri??
Aku benar-benar tidak paham apa yang slah disini, kenapa kotak itu tidak diberikan kepadaku tetapi mbak febri? merasa tidak adil aku pun protes, "mbak, tadi mbak bilang kalau yang menang suit dia yang mbak kasih kotak itu, kan aku tadi yang menang mbak, tapi kenapa yang dikasih mbak febri?"
dengan entengnya mbak epi menjawab, "ya emang tadi kamu yang menang, tapi ga apa ya aku kasih nya ke febri aja"
Uh apa-apaan itu? kalaupun memang kotak itu akhirnya dikasih ke Mbak Febri dan bukan ke yang menang suit seperti yang dia bilang tadi, kenapa dia menyuruh kami suit? dan kenapa dia tidak menepati janji? dan kenapa pula si febri itu merengek-rengek barang yang bukan hak dia?? Ya, kotak itu seharusnya adalah milikku, karena aku yang menang suit. Ini semua tidak adil, mengapa selalu dia yang menang, mengapa selalu dia yang jadi perhatian? apakah aku tidak layak? (gerutuku dalam hati dengan tampang sangat kecut)
kamu tahu jika sumbu mercon dibakar sumbunya maka beberapa detik kemudian akan meledak? seperti itulah emosiku saat ini melihat ketidak adilan yang sedang menderaku. Dibakar rasa emosi, tanpa sadar aku mengambil batu di tanah yang persis ada disebelah kaki kananku, dan...... *bug*. Batu itu bersarang ke kepala mbak Febri, dan sedetik kemudian dia meringis, menangis, darah mengalir di dahinya. dia berlari kedalam rumah. Semua yang ada disitu, Mbak epi, mas, adi, melongo melihat kebrutalanku. Aku masih tidak sadar kesalahan apa yang aku perbuat karena masih dilingkupi emosi. sesaat kemudian suara mas menyadarkanku, "apasih kamu ini, demi kotak sabun aja sampe nimpuk orang? kalau ibu tahu pas pulang pengajian nanti kamu pasti aka dimarahi! dan juga kamu akan dimarahi sama Bulik Dam (ibu mbak febri)".
Aku terkesiap, Jadi yang dibilang mbak epi dengan kotak keren yang berbau harum itu tidak lain adalah..... Ya ampuunnn, ko bener-bener bodoh banget sih aku bisa dikibulin kaya gitu?
Aku mulai ikut menangis bukan karena apa, tetapi karena teringat kelakuanku tadi yang menyelakai temanku, tetanggaku. Dan juga aku takut sekali jika nanti ibu marah kepadaku saat tau gadis kecilnya nimpuk kepala temannya dengan batu. Apa yang harus aku perbuat??

6 Apr 2013

Jum'at Sore

aku mau cerita perjalananku jumat sore kemarin. Dimulai dari jerawat yang selalu merecoki wajahku ga pernah mau mengalah barang sedikit pun. Akhirnya aku memutuskan pergi ke dokter specialis kulit.
Pulang dari kerja langsung cabut ke tempat prakter dokter yang direkomendasikan temenku *diatar temanku tentunya*. Ternyata saat mendaftar dapat nomor 53! It was gonna be crazy i thought, but i couln't called it though. Jadi aku tanya ke orang yang ngedaftar tamu kira-kira nomor 53 itu jam berapa, katanya sekitar abis magrib. HHmm, aku ga enak ama temenku itu karena harus ngantar aku dia harus pulang malam.
Dan ternyata giliranku itu ga abis magrib tapi jam setengah 8! it was so tiring.
Aku kira dokter itu sistem kerja nya sama kaya dokter yang pernah aku kunjungi di Malang, cuma dicek kulit wajah, trus diberi beberapa obat luar, bayar, udah.
Tapi ini ternyata beda, calon jerawat yang ada di pipiku di congkel pake alat tak taulah namanya itu, yang pasti alat itu buat facial. it was so painful T_T. I've never taken facial on salon, but if the feeling like what the doktor did to my pimple yesterday night, I would prefer never try that 'facial'.
dan yang paling menyedihkan dari semua, untuk sementara aku dilarang makan yang namanya mie instan, roti, ama telor. betapa aku sangant menyukai telor, oh nooo! T_T